Senin, 27 Juni 2011

Laporan Praktikum Taksonomi Tumbuhan Acara 2

BAB I
METODE PENELITIAN

A.            Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tumbuhan pinus (Pinus merkusii), talas (Colocasia escucentum), babadotan (Ageratum conyzoides) dan mangga (Mangifera Indica). Sedangkan Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas dan alat tulis (pensil, bolpoint, penghapus dan penggaris).
B.            Cara Kerja
1.             Timbuhan diamati secara seksama.
2.             Tumbuhan digambar pada kertas yang telah disediakan.
3.             Tumbuhan diidentifikasi family, nama latin, nama daerah dan ciri-cirinya, lalu ditulis disamping gambar.














BAB II
PEMBAHASAN

A.     DESKRIPSI ANGIOSPERMAE ( TUMBUHAN BIJI TERTUTUP )

Berlainan dengan kelompok – kelompok tumbuhan yang sampai sekarang telah dibicarakan pada tumbuhan biji tertutup itu bakal bijinya selalu diselubungi oleh suatu badan yang berasal dari daun – daun buah yang dinamakan bakal buah, yang kemudian kadang – kadang beserta bagian lain dari bunga akan tumbuh menjadi buah dan bakal biji yang tersembunyi itu serbuk sari tidak dapat secara langsung sampai pada bakal biji, melainkan mula – mula jatuh di luar bakal buah, pada suatu alat (organ) yang disebut kepala putik yang biasanya dengan bakal buah bersambungan dengan tangkai kepala putik. Bakal buah, tangkai kepala putik, dan kepala putik merupakan suatu alat yang dinamakan putik. Serbuk sari yang jatuh pada kepala putik lalu tumbuh merupakan buluh serbuk yang terus menuju ke bakal biji dan berguna sebagai perantara untuk menyampaikan sel – sel kelamin jantan kepada sel kelamin betina.
Gametofit lebih sederhana lagi. Dalam buluh serbuk sari tak terdapat sel – sel protalium, dan sel – sel kelamin jantan tidak lagi berupa spermatozoid. Dalam bakal biji, dari makrospora yang berupa kandung lembaga tidak terbentuk makroprotalium yang bersal banyak dan tidak ada pula arkegonium. Gametofit betina hanya berupa beberapa sel saja dan satu di antranya ialah sel telurnya. Sehabis peleburan dengan salah satu inti sperma, terjadilah embrio. Inti sperma yang kedua mengadakan peleburan dengan inti kandung lembaga sekunder yang nantinya akan merupakan putih lembaga sekunder. Peristiwa itulah yang disebut pembuluh ganda.
Berbeda dengan Gymnospermae yang terdiri dari atas tumbuhan yang berkayu saja. Angiospermae selain terdiri atas tumbuhan berkayu juga terdiri atas tumbuhan yang berbatang basah. Diferensiasi yang lebih lanjut tampak dari adanya trakea ( buluh daunnya bertulang menyirip atau menjari pada Dicptyledoneae ( tumbuhan biji belah ) dan bertulang sejajar atau melengkung pada Monocotyledoneae ( tumbuhan biji tunggal ). Bunga bermacam – macam bentuk dan susunannya. Pada bunga selalu terdapat bagian – bagian bunga yang tersusun berkarang, dan hiasan bunganya biasanya dapat dibedakan dalam kelompok dan mahkota atau tajuk bunga. Selanjutnya bunga itu kebanyakan bunga banci ( hermaphroditus ) , jadi padanya terdapat alat – alat kelamin jantan maupun betina. Sifat – sifat bunga seperti tersebut dapat dianggap sebagai “ tipe “ standar bunga tumbuhan yang tergolong dalam Angiospermae.


B.     DESKRIPSI GYMNOSPERMAE ( TUMBUHAN BIJI TERBUKA )
Tumbuhan yang termasuk golongan ini melulu terdiri atas tumbuhan – tumbuhan yang berkayu dengan bermacam – macam habitus. Bagian kayunya dari berkas – berkas pembuluh pengangkutan kolateral terbuka yang pada penampang melintang batang tersusun dalam suatu lingkaran, dan karena adanya kambium memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Dalam bagian xilem tidak terdapat pembuluh – pembuluh kayu, melainkan hanya trakeida saja dan di dalam bagian floem berlainan juga dengan tumbuhan  biji tertutup ( Angiospermae ) tidak terdapat sel – sel pengiring. Selain dari itu umumnya dalam batang tumbuhan biji terbuka tidak terdapat floeoterma. Sebagian perkecualian ialah Gnetum gnemon yang batangnya mempunyai floeoterma dan dalam bagian kayunya terdapat buluh – buluh kayu, tetapi sebaliknya tidak mempunyai buluh resin, yang lazim terdapat pada tumbuhan biji terbuka.
Daun mempunyai bentuk yang bermacam – macam, kaku dan selalu hijau di dalamnya berkas – berkas pengangkut yang tidak bercabang atau bercabang menggarpu.
Bunga menurut pengertian sehari – hari belum ada, kadang – kadang makrosporofil dan mikrosporofil masih terkumpul dalam jumlah yang tidak tebatas pada suatu sumbu yang panjang. Hiasan bunga tidak ada atau teredeksi. Mikrosporofil untuk sebagian masih mempunyai kantong sari yang besar dan banyak dan membuka dengan pertolongan eksoteriumnya, yaitu epidermis yang dapat bekerja sebagai suatu mekanisme kohesi. Bakal biji yang hanya mempunyai satu integumen terbuka, tidak seperti pada Angiospermae terbungkus dalam daun buah yang telah menjadi satu merupakan putik. Bakal biji itu langsung didatangi oleh serbuk sari yang dibawa oleh angin. Karena terbuka, jadi juga tidak terdapat kepala putik.
Gemetofit telah mengalami reduksi,tetapi belum begitu jauh seperti pada Angiospermae. Pembentukan gametofit betina terjadi dalam bakal biji dalam satu – satunya
 makrospora yang masih tinggal, karena dari 4 makrospora yang terdiri pada pembelahan tetrade juga pada Angiospermae merupakan kandungan lembaga. Meskipun seluruhnya dilingkungi jaringan nuselus, masih juga dapat dibedakan adanya membran ekso dan endosporium. Makrospora ini tetap dalam nuselus, mengadakan pembelahan inti yang bebas dan dengan terbentuknya dinding – dinding pemisah terjadilah sebuah makroprotalium yang bersel banyak. Makroprotalium ini pada bagian yang menghadap mikropil membentuk sejumlah arkegonium yang tidak tetap, yang terdiri atas suatu sel telur yang besar, sejumlah sel – sel dinding leher dan kadang – kadang juga suatu sel saluran perut yang dapat leyap.
Pembentukan gametifit jantan berlangsung sebagai berikut. Dalam serbuk sari atau mikrospora, mula – mula dipisahkan satu, dua, kadang – kadang beberapa sel yang menempel pada salah satu dindingnya. Sel – sel ini dianggap sebagai sel – sel protalium jantan yang segera akan mati. Sel yang masih ketinggalan lalu membagi diri. Yang satu kecil, terdapat dibagian atas dekat dengan sel – sel protalium yang telah mati tadi, dan dinamkan sel generatif atau swl anteredium, yang satunya lagi besar dan menyelubungi sel generatif. Sel ini disebut sel vegetatif. Setelah terjadi penyerbukan sel vegetatif lalu tumbuh menjadi buluh serbuk sari. Pertumbuhannya dimulai pada bagian serbuk sari yang tipis dindingnya dan memang tersedia sebagai tempat permulaan berkecambahnya serbuk sari. Sel generatif lalu membagi diri lagi menjadi sel tangkai yang berhadapan dengan sel protalium dan sel spermatogen. Sel spermatogen lalu membelah lagi menjadi dua sel sperma yang pada golongan Gymnospermae tertentu berubah menjadi spermatozoid, tetapi biasanya dengan tanpa perubahan ,di dalam serbuk sari bergerak menuju ke sel telur.
Sel generatif barangkali dapat disamakan dengan anteridium. Jadi gametofit jantan di sini terdiri atas beberapa sel protalium termasuk juga sel vegetatif, dan suatu anteridium. Sel tangkai juga dinamakan sel bersaudara, sel dinding atau dislokator.
            Setelah selesai pembuahan, dari zigot mula – mula terbentuk pro- embrio dan dari bagian bawah pro- embrio ini barulah terbentuk embrio yang sesungguhnya, yang terdapat didalam protalium yang telah menimbun zat – zat makanan yang dinamakan endosperm primer. Endosperm primer dinamakan demikian karena berlainan dengan pada Angiospermae. Endosperm terbentuk sebelum pembuahan. Sedangkan pada Angiospermae endosperm terjadi dari inti kandung lembaga sekunder yang dibuahi. Bunga betina atau seluruh bunga majemuk lalu menjadi buah dengan bengan bentuk sususnan yang khusus yag disebut “dennenappel” atau “ dennenkegel”, yang terdiri atas sebuah sumbu dengan sisik – sisik berkayu dengan biji – biji di dalamnya. Karena bentuknya seperti sebuah kerucut, badan itu disebut strobilus. Gymnospermae dibagi dalam sejumlah kelar yang sebagian telah punah.

C.     DESKRIPSI MONOKOTIL DAN DIKOTIL

                                I.            TUMBUHAN MONOKOTIL ( MONOCOTYLEDINEAE)

Kelas Monocotyledineae membawahi sejumlah bangsa dan suku tumbuhan yang warganya dianggap mempunyai tingkat  perkembangan filogenetik yang tinggi. Jenis- jenis tumbuhan yang tergolong dalam kelas ini dapat dikenal berdasarkan ciri – ciri berikut :
Ciri – ciri morfologi : Berupa ternak, semak, atau pohon yang mempunyai sistem akar serabut, batang berkayu atau tidak, biasanya tidak atau tidak banyak bercabang – cabang, buku – buku dan ruas – ruas kebanyakan tampak jelas. Daun kebanyakan tunggal , jarang majemuk, bertulang sejajar atau bertulang melengkung, duduknya berseling ( mengikuti rumus  ) atau membentuk rozet. Bunga berbilangan 3, kelopak dan mahkota kadang – kadang tidak dibedakan dan merupakan tenda bunga. Buah dengan biji yang mempunyai endosperm, jarang tidak, lembaga mempunyai daun lembaga yang berubah menjadi alat penghisap makanan dari endosperm untuk lembaga sebelum dapat mencari makanan sndiri. Baik akar maupun pucuk lembaga dilindungi oleh suatu sarung pelindung akar lembaga disebut koleoriza, sadang pelindung pucuk lembaga dinamakan koleoptil. Pada waktu perkecambahan sarung yang merupakan pelindung tadi akan tertembus oleh organ yang dilindunginya.
Dari segi anatomi warga Monocotyledoneae mempunyai ciri – ciri : akar mempunyai struktur yang terdiri atas jaringan – jaringan primer saja dengan silinder pusat yang tergolong aktinostele dan endodermis yang pada penampang lintang jelas dapat dibedakan sel – sel yang menebal dan tidak dapat dilalui air dan zat – zat makanan yang terlarut didalamnya dengan sel – sel yang biasanya berhadapan dengan suatu berkas pembuluh kayu yang dindingnya tidak menebal dan merupakan pintu masuknya air dari bagian luar akar ke dalam berkas – berkas pembuluh pengangkut.
Karena tidak adanya kambium, akar tidak bertambah besar , tidak ada pembentukan jaringan baru, sehingga tetap mempunyai struktur yang primer. Juga dalam batang tidak terdapat kambium, sehingga pada batangpun hanya terdapat jaringan – jaringan primer saja, dan setelah batang mencapai ukuran tertentu, batang tidak dapat bertambah besar lagi. Pada penampang lintang batang endodermis tidak nampak dengan nyata, berkas – berkas pembuluh pengangkutannya bersifat kolateral tertutup dan pada penampang lintang batang tadi tampak berserakan, biasanya dari pinggir ketengah semakin jarang. Silinder pusat seperti pada Monocotyledoneae dengan berkas – berkas pembuluh pengangkutan yang berserakan itu disebut ataktostele.
Perkecualiaan atau penyimpangan dari ciri – ciri yang telah disebutkan itu terdapat pada berbagai jenis tumbuhan yang termasuk Monocotyledoneae, misalnya terdapat batang yang berkambium, bercabang – cabang tanpa ada buku – buku dan ruas – ruas batang yang jelas seperti terdapat pada warga suku Liliaceae ( Dracaena, Pleomela ), adanya daun – daun dengan susunan tulang – tulang menjari atau menyirip pada palma ( Palmae ). Sifat – sifat tersebut ditambah dengan ditemukannya sifat – sifat yang khas Monocotyledoneae ( bunga yang berbilangan 3 ) pada kelompok – kelompok Dicotyledoneae tertentu, oleh ahli – ahli taksonomi dipandang sebagai petunjuk yang kuat untuk menempatkan Monocotyledoneae sebagai kelompok tumbuhan yang secara filogenetik lebih maju dari pada Dicotyledoneae. Ahli – ahli taksonomi cenderung berpendapat bahwa nenek moyangnya Monocotyledoneae harus dicari  dari lingkungan Dicotyledoneae yang dianggap primitif yaitu dari lingkungan bangsa Ranunculales. Di perkirakan bahwa Monocotylenoneae tidak bersifat monofiletik tetapi polifiletik, mengingat beasrnya keanekaragaman yang diturunkan oleh warga Monocotyledoneae.
Mengenai urutan – urutan dalam sejarah perkembangan filogenetik bagi bangsa – bangsa yang tergolong dalam Monocotyledoneae, seperti halnya dengan berbagai masalah taksonomi ada pendapat yang berbeda – beda. Kita ikuti disini pendapat yang memulai dengan Helobiae ( Alismatales ) dan memilih Pandanales sebagai kelompok yang terakhir.

                             II.            TUMBUHAN DIKOTIL ( DICOTYLEDONEAE )
Tumbuh – tumbuhan yang tergolong dalam kelas ini meliputi terna, semak – semak, perdu maupun pohon – pohon yang seperti yang telah disebutkan terdahulu dapat di kenal karena mempunyai ciri – ciri berikut :
Ciri – ciri morfologi :
1)      Seperti namanya telah menyabutkan tumbuh – tumbuhan ini mempunyai lembaga dengan 2 daun lembaga ( berbiji belah ) dan akar serta pucuk lembaga yang tidak mempunyai pelindung yang khusus.
2)      Akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok ( akar tunggang ) yang bercabang – cabang dan membentuk sistem akar tunggang.
3)      Batang terbentuk kerucut panjang, biasanya bercabang – cabang dengan ruas – ruas dan buku – buku yang tidak jelas.
4)      Duduk daun biasanya tersebar atau berkarang, kadang – kadang saja berseling.
5)      Daun tunggal atau majemuk, seringkali disertai oleh daun – daun penumpu, jarang mempunyai pelepah, helaian daun bertulang menyirip atau menjari.
6)      Pada cabang – cabang ke samping sering kali terdapat 2 daun pertama yang letaknya tegak lurus pada bidang median di kanan kiri cabang tersebut.
7)      Bunga bersifat di- ; tetra- ; atau pentamer.

Ciri – ciri Anatomi :

1.      Baik akar maupun batang mempunyai kambium, hingga akar maupun batangnya memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder.
2.      Pada akar sifat radial berkas pengangkutnya hanya nyata pada akar yang belum mengadakan pertumbuhan menebal.
3.      Pada batang berkas pengangkutan tersusun dalam lingkaran dengan xilem di sebelah dalam dan floem di sebelah luar, diantranya terdapat kambium, jadi berkas pengangkutannya bersifat kolateral terbuka, kadang – kadang bikolateral.
Perkecualian atau penyimpangan dari sifat – sifat tersebut di atas dapat kita jumpai di antra tumbuh- tumbuhan yang termasuk Dicotyledoneae, misalnya :
v     Tidak mempunyai sistem akar tunggang. Tumbuh – tumbuhan yang tergolong dalam suku Nymphaeaceae, Piperaceae
v     Daun – daun duduknya berseling, misalnya beberapa marga yang tergolong dalam suku Annonaceae
v     Tulang daun melengkung , suku Melastomataceae, Piperaceae
v     Bunga trimer, suku Annonaceae
Penyimpangan sifat – sifat anatomi pun terdapat misalnya berkas penyangkutan dalam batang tersebar , terdapat pada anggota – anggota suku Nymphaeaceae.
Dicotyledoneae dapat dibedakan dalam 3 anak kelas :
Monochlamyceae ( Apetalae ), Dialypetalae, dan Sympetalae, yang perbedaannya terletak dalam ada dan tidaknya daun – daun mahkota ( petalae )dan bagaimana susunan daun – daun mahkota tersebut. Sementara ahli hanya membedakan 2 anak kelas saja yaitu :
1.      Choripetalae yang meliputi Apetalae dan Dialypetalae.
2.      Sympetalae

D.    DESKRIPSI SPESIES

a.       Tales ( Cola cosiria esacu / eritum )
Tumbuhan ini tergolong famili Araceae dengan spesies Cola cosiria esacu / eritum. Memiliki daun berbentuk bulat telue, elips atau memanjang, ujung meruncing bergaris tua keunguan. Batang tangkai daun hijau. Akar rimpang dengan bunga berada di tengah – tengah antara daun dan daun. Buahnya berbentuk umbi yang berada ditengkul akar.
Manfaat dan Khasiat
Umbi talas, dan helaian daun bila dimasak lebih dulu dapat dimakan. Bubur talas dapat melancarkan pencernaan sehingga dapat dikonsumsi untuk makanan bayi dengan tingkat alergi yang rendah. Saat ini talas merupakan makanan pokok di banyak pulau termasuk Papua yang berpengaruh secara ekonomi pada permainan tradisional dan upacara adat.
Talas di Asia Tenggara dikonsumsi oleh manusia tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam festival keagamaan, sebagai obat - obatan masyarakat dan sebagai makanan ternak babi. Di Jawa, permen dapat dibuat dari talas yang beraroma semerbak dicampur dengan kelapa dan gula. Daunnya digunakan untuk membungkus masakan buntil, dapat dimasak dan dimakan sebagai selada.
Awalnya talas di Filipina digunakan pada saat makanan pokok dan sayuran hijau mengalami penurunan pasokan. Di Hawai dan beberapa bagian Polynesia, umbi talas dikukus dan dihaluskan untuk dibuat pasrta dan dapat diolah untuk puding.
b.      Babandotan ( Ageratum conyzoides L )
Tumbuhan ini tergolong famili Asteraceae / compositae dengan spesies Ageratum conyzoides L. Merupakan tumbuhan dikotil. Memiliki daun berwarna hijau , daun bawah berhadapan dan bertangkai pendek helaian daun bulat telur. Akarnya tunggang. Bunga memiliki dasar bunga bersama tanpa sisik ,bunga sama panjang dengan pembelut.
Di Bogor, babadotan dikenal luas sebagai obat luka. Menurut Heyne , daun tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk dioleskan ke badan untuk obat demam; ekstraknya dapat diminum.
Meski demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun. Di Barat, bandotan juga dimanfaatkan sebagai insektisida dan nematisida. Sementara, penelitian lain menemukan bahwa bandotan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan menumbuhkan tumor. Tumbuhan ini mengandung alkaloid pirolizidina
c.       Pinus

Tumbuhan ini tergolonga famili Pinaceae. Memiliki daun berbentuk jarum, tiap ketiak ada daun, ujung daun tajam. Bijinya terbuka. Pada pangkal daunnya dikelilingi oleh suatu sarum dan sisik yang berupa selaput tipis. Biji pipih berbentuk bulat telur.
Manfaat pohon pinus:
Dari Pohon pinus sebenernya yang di ambil adalah getahnya,dan getah pinus itulah yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di banding bagian pohon lainnya.Pohon Pinus di anggap produktif kalau sudah berumur sekitar 10 sampe 15 tahun namun itu masih belum maksimal tapi sudah bisa di hasilkan getah yang bagus walaupun hasilnya tidak begitu banyak, memperkuat tenaga, menghilangkan keletihan, Merupakan “ kosmetik oral“ alami; Melindungi jantung, mencegah penyakit pembuluh darah jantung; Meningkatkan imunitas tubuh, mencegah berbagai penyakit menular dan tumor; Memperkuat fungsi pencernaan, menambah napsu makan; Memperlambat penuaan; Meningkatkan pertumbuhan anak-anak yang sehat; Timbulnya penyakit saluran pencernaan dan menurunnya fungsi penyerapan pada sistem pencernaan;  Diabetes; Anemia; Alergi; Penyakit liver.
d.      Mangga
Mangga atau mempelam adalah nama sejenis buah, demikian pula nama pohonnya. Mangga termasuk ke dalam marga Mangifera, yang terdiri dari 35-40 anggota, dan suku Anacardiaceae. Nama ilmiahnya adalah Mangifera indica.
Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga bisa mencapai tinggi 10-40 m.
Nama buah ini berasal dari Malayalam maanga. Kata ini dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi mangga; dan pada pihak lain, kata ini dibawa ke Eropa oleh orang-orang Portugis dan diserap menjadi manga (bahasa Portugis), mango (bahasa Inggris) dan lain-lain. Nama ilmiahnya sendiri kira-kira mengandung arti: “(pohon) yang berbuah mangga, berasal dari India”.
Berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga telah menyebar ke Asia Tenggara sekurangnya semenjak 1500 tahun yang silam. Buah ini dikenal pula dalam berbagai bahasa daerah, seperti pelem atau poh.
Pohon mangga berperawakan besar, dapat mencapai tinggi 40 m atau lebih, meski kebanyakan mangga peliharaan hanya sekitar 10 m atau kurang. Batang mangga tegak, bercabang agak kuat; dengan daun-daun lebat membentuk tajuk yang indah berbentuk kubah, oval atau memanjang, dengan diameter sampai 10 m. Kulit batangnya tebal dan kasar dengan banyak celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun. Warna pepagan (kulit batang) yang sudah tua biasanya coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam.
Mangga berakar tunggang yang bercabang-cabang, sangat panjang hingga bisa mencapai 6 m. Akar cabang makin ke bawah semakin sedikit, paling banyak akar cabang pada kedalaman lebih kurang 30-60 cm.
Daun tunggal, dengan letak tersebar, tanpa daun penumpu. Panjang tangkai daun bervariasi dari 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya. Aturan letak daun pada batang biasanya 3/8, tetapi makin mendekati ujung, letaknya makin berdekatan sehingga nampaknya seperti dalam lingkaran (roset).
Helai daun bervariasi namun kebanyakan berbentuk jorong sampai lanset, 2-10 × 8-40 cm, agak liat seperti kulit, hijau tua berkilap, berpangkal melancip dengan tepi daun bergelombang dan ujung meluncip, dengan 12-30 tulang daun sekunder. Beberapa variasi bentuk daun mangga:
*         Lonjong dan ujungnya seperti mata tombak.
*         Berbentuk bulat telur, ujungnya runcing seperti mata tombak.
*         Berbentuk segi empat, tetapi ujungnya runcing.
*         Berbentuk segi empat, ujungnya membulat.
Daun yang masih muda biasanya bewarna kemerahan, keunguan atau kekuningan; yang di kemudian hari akan berubah pada bagian permukaan sebelah atas menjadi hijau mengkilat, sedangkan bagian permukaan bawah berwarna hijau muda. Umur daun bisa mencapai 1 tahun atau lebih.


Bunga

Berumah satu (monoecious), bunga mangga merupakan bunga majemuk yang berkarang dalam malai bercabang banyak di ujung ranting. Karangan bunga biasanya berbulu, tetapi sebagian ada juga yang gundul, kuning kehijauan, sampai 40 cm panjangnya. Bunga majemuk ini terdiri dari sumbu utama yang mempunyai banyak cabang utama. Setiap cabang utama ini mempunyai banyak cabang-cabang, yakni cabang kedua. Ada kemungkinan cabang bunga kedua ini mempunyai suatu kelompok yang terdiri dari 3 bunga atau mempunyai cabang tiga. Setiap kelompok tiga bunga terdiri dari tiga kuntum bunga dan setiap kuntum bertangkai pendek dengan daun kecil. Jumlah bunga pada setiap bunga majemuk bisa mencapai 1000-6000.
Bunga-bunga dalam karangan berkelamin campuran, ada yang jantan dan ada pula yang hermafrodit (berkelamin dua). Besarnya bunga lebih kurang 6-8 mm. Bunga jantan lebih banyak daripada bunga hermafrodit, dan jumlah bunga hermafrodit inilah yang menentukan terbentuknya buah. Persentase bunga hermafrodit bermacam-macam, tergantung dari varietasnya, yaitu antara 1,25%-77,9%; sementara yang mempunyai bakal buah normal kira-kira 5-10%.
Bunga mangga biasanya bertangkai pendek, jarang sekali yang bertangkai panjang, dan berbau harum. Kelopak bunga biasanya bertaju 5; demikian juga mahkota bunga terdiri dari 5 daun bunga, tetapi kadang-kadang ada yang 4 sampai 8. Warnanya kuning pucat, sedangkan pada bagian tengah terdapat garis timbul berjumlah 3 sampai 5 yang warnanya sedikit tua. Bagian tepi daun mahkota berwarna putih. Pada waktu akan layu, warna mahkota bunga tadi menjadi kemerahan.
Benang sari berjumlah 5 buah, tetapi yang subur hanya satu atau dua buah sedangkan yang lainnya steril. Benang sari yang subur biasanya hampir sama panjang dengan putik, yakni kira-kira 2 mm, sedangkan yang steril lebih pendek. Kepala putik berwarna kemerah-merahan dan akan berubah warna menjadi ungu pada waktu kepala sari membuka untuk memberi kesempatan kepada tepung sari yang telah dewasa untuk menyerbuki kepala putik. Bentuk tepung sari biasanya bulat panjang, lebih kurang 20-35 mikron.
Bakal buahnya tidak bertangkai dan terdapat dalam suatu ruangan, serta terletak pada suatu piringan. Tangkai putik mulai dari tepi bakal buah dan ujungnya terdapat kepala putik yang bentuknya sederhana. Dalam suatu bunga kadang-kadang terdapat tiga bakal buah.

Buah

Buah mangga termasuk kelompok buah batu (drupa) yang berdaging, dengan ukuran dan bentuk yang sangat berubah-ubah bergantung pada macamnya, mulai dari bulat (misalnya mangga gedong), bulat telur (gadung, indramayu, arumanis) hingga lonjong memanjang (mangga golek). Panjang buah kira-kira 2,5-30 cm. Pada bagian ujung buah, ada bagian yang runcing yang disebut paruh. Di atas paruh ada bagian yang membengkok yang disebut sinus, yang dilanjutkan ke bagian perut.
Kulit buah agak tebal berbintik-bintik kelenjar; hijau, kekuningan atau kemerahan bila masak. Daging buah jika masak berwarna merah jingga, kuning atau krem, berserabut atau tidak, manis sampai masam dengan banyak air dan berbau kuat sampai lemah. Biji berwarna putih, gepeng memanjang tertutup endokarp yang tebal, mengayu dan berserat. Biji ini terdiri dari dua keping; ada yang monoembrional dan ada pula yang poliembrional.

Hasil dan kegunaan

Mangga terutama ditanam untuk buahnya. Buah yang matang umum dimakan dalam keadaan segar, sebagai buah meja atau campuran es, dalam bentuk irisan atau diblender. Buah yang muda kerapkali dirujak, atau dijajakan di tepi jalan setelah dikupas, dibelah-belah dan dilengkapi bumbu garam dengan cabai. Buah mangga juga diolah sebagai manisan, irisan buah kering, dikalengkan dan lain-lain. Di pelbagai daerah di Indonesia, mangga (tua atau muda) yang masam kerap dijadikan campuran sambal atau masakan ikan dan daging.
Biji mangga dapat dijadikan pakan ternak atau unggas; di India bahkan dijadikan bahan pangan di masa paceklik. Daun mudanya dilalap atau dijadikan sayuran. Kayu mangga cukup kuat, keras dan mudah dikerjakan; namun kurang awet untuk penggunaan di luar. Kayu ini juga dapat dijadikan arang yang baik.
Daun mangga mengandung senyawa organik tarakserol-3beta dan ekstrak etil asetat yang bersinergis dengan insulin mengaktivasi GLUT4, dan menstimulasi sintesis glikogen, sehingga dapat menurunkan gejala hiperglisemia.




















DAFTAR PUSTAKA

·        Duke. J.1983. Handbook of Energy Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
·        http://www.learn2grow.com/exploration of plants. Diakses tanggal 18 Juni 2009
·        Hidayat, Estiti,B. 1995. Anatomi  Tumbuhan Berbiji. ITP: Bandung.
·        Tjitrosoepomo, Gembong. 1988. Taksonomi Tumbuhan ( Spermatopyta ).
Gadjah Mada University Press. Jogyakarta.
·        Tjitrosoepomo, Gembong. 1979. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
·        Steens, C. 1981. Flora. PT. Prodnya Paramita. Jakarta  Pusat

Laporan Praktikum Taksonomi Tumbuhan Acara 1

BAB I
METODE PENELITIAN

A.            Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tumbuhan Tumbuhan rumput gajah (Pennisetum purpureun), babandotan (Ageratum conyzoides), pinus (Pinus merkusii), paku (Drymoglossum piloselloides), lumut (Marchantia polymorpha), ganggang (Hydrilla verticillata). Sedangkan Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas dan alat tulis (pensil, bolpoint, penghapus dan penggaris).

B.            Cara Kerja
1.             Timbuhan diamati secara seksama.
2.             Tumbuhan digambar pada kertas yang telah disediakan.
3.             Tumbuhan diidentifikasi family, nama latin, nama daerah dan ciri-cirinya, lalu ditulis disamping gambar.
















BAB II
PEMBAHASAN

Tumbuhan biji (Spermatophyta) Dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
-Tumbuhan biji tertutup (Angiospermae)
-Tumbuhan biji terbuka (Gymnospermae)

a)      Tumbuhan Berbiji Tertutup (Angiospermae)
           Tumbuhan biji tertutup memiliki jumlah spesies lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan berbiji terbuka.  Tumbuhan kelompok angiospermae memiliki lebih banyak species karenan tanaman gymnospermae hanya tumbuh pada kondisi lingkungan tertentu, sedankan tumbuhan angiospermae dapat tumbuh di berbagai kondisi alam dan kebanyakan berumah 1 sehingga memungkinkan untuk terjadi persilangan yang menghasilkan varian baru dalam 1 species.
           Tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) berasal dari kata angio = bunga dan spermae = tumbuhan berbiji. Tumbuhan ini memiliki bunga yang sesungguhnya yang terdiri dari mahkota bunga, kelopak bunga, putik, dan benang sari.
           Secara umum, tumbuhan berbiji tertutup memiliki ciri yang sama dengan tumbuhan berbiji terbuka. Keunikan tumbuhan berbiji tertutup terletak pada bijinya yang tersusun oleh keping lembaga (kotyledon). Keping lembaga pada tumbuhan berbiji tertutup membentuk dua kelompok tumbuhan, yaitu tumbuhan berbiji tunggal (Monocotyledonae) dan tumbuhan berbiji berkeping dua (Dicotyledonae).
·    Tumbuhan angiospermae dibadi menjadi tumbuhan dikotil dan monokotil.
Ciri Dikotil :
-Memiliki 2 kotiledon (daun lembaga)
-Batang berkambium dan bercabang
-Letak xylem dan floem teratur
-Akar tunggang
-Mahkota bunga kelipatan 2,4,5
Dicotyledoneae
           Berkeping biji dua , berakar tunggang , batang berkambium sehingga membesar bercabang , daun bertulang menyirip/menjari dan bunga baik mahkota dan kelopaknya berkelipatan 4 atau 5 , tipe berkas pengangkut melingkar teratur dengan type kolateral terbuka ( Xilem dan Floem dipisahkan kambium) contoh : mangga , jambu , rambutan dll

Ciri Monokotil :
-Memiliki 1 kotiledon
-Batang tidak berkambium dan lurus
-Letak xylem dan floem tersebar
-Akar serabut
-Mahkota bunga kelipatan 3

Monocotyledoneae
           Mempunyai biji berkeping satu, berakar serabut, batangnya dari pangkal sampai ujung hampir sama besarnya. Umumnya tidak bercabang. Akar dan batang tidak berkambium. Contohnya: Oryza sativa (padi), Zea mays (jagung), Musa paradisiaca (pisang), Cocos nucifera (kelapa).

Biji
           Biji mengandung embrio dari sporofit, cadangan makanan, kulit pelindung. Embrio di dalam biji bersifat dorman ('tidur' atau tidak aktif)sehingga mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama tanpa penambahan air atau makanan. ketika kondisi menguntungkan embrio mulai tumbuh atau dikatakan biji mulai berkecambah.
Struktur biji
1. biji mengandung embrio yang dibungkus oleh kulit biji yang disebut testa
2. dalam biji tersimpan cadangan makanan atau endosperm, yang digunakan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang
3. Biji terbentuk dari ovula dewasa yang telah dibuahi

Bagian-bagian dari biji:
1. akar pertama yang disebut radikula
2. satu atau dua lembar daun embrio yang disebut kotiledon
3. daun pertama yang disebut plumula yang akan bercabang membentuk ranting
4. Batang yang terletak di bagian bawah kotiledon disebut hipokotil
5. batang yang terletak di bagian atas kotiledon disebut epikotil
     Ciri tumbuhan berbiji:
1. multiseluler
2. autotrof
3. mengalami pergiliran keturunan dalam daur hidupnya
4. berkembangbiak dengan menggunakan biji
5. memiliki jaringan pengangkut (fasis) untuk mengedarkan air dan bahan makanan.
           Angiosperma dan Gymnosperma merupakan dua subdivisi kingdom Plantae yang paling berkembang. Terdapat ciri khas yang membedakan kedua subdivisi ini. Terutama pada bijinya.
           Sesuai namanya, biji Gymnosperma tidak ditutupi oleh daging buah sehingga sering disebut biji telanjang (gymnos=telanjang, dan sperm=biji). Sebaliknya, biji Angiosperma ditutupi oleh semacam daging buah (Angieon=botol, dan sperm=biji).
Sebenarnya, nama Angiosperma mengacu pada alat reproduksi betina yang menyerupai botol.
b)      Tumbuhan Berbiji Terbuka (Gymnospermae)
      Secara harfiah Gymnospermae berarti gym = telanjang dan spermae = tumbuhan yang menghasilkan biji. Jadi, Gymnospermae adalah tumbuhan yang memiliki biji terbuka.
 Tumbuhan kelompok Gymnospermae mempunyai ciri, yaitu :
1.Bakal biji tidak terlindungi oleh daun buah.
2.Berakar tunggang.
3.Umumnya berupa pohon.
4.Mempunyai akar, batang, dan daun sejati.
Para ahli biologi menggolongkan Gymnospermae menjadi beberapa ordo dan divisio, yaitu :
1.Cycadales divisio Cycadophyta, contoh pakis haji (Cycas rumphii)
2.Ginkgoales divisio Ginkgophyta, contoh Ginkgo biloba
3.Coniferales divisio Pinophyta, contoh pinus, cemara, dan damar
4.Gnetales divisio Gnetophyta, contoh melinjo (Gnetum gnemon)
·        ALAT REPRODUKSI PADA GYMNOSPERMAE
      Semua Gymnospermae adalah heterostrop, artinya mempunyai dua macam spora, yaitu mikrospora dan megaspore. Mikrospora atau polen menghasilkan gametofit jantan, sedang megaspore yang tunggal menghasilkan gametofit betina, dan pada gametofit ini terbentuk arkegonia. Kedua macam spora yang dihasilkan di dalam sporangia yang terdapat pada sporofil yang tersusun spiral pada aksis strobili.
      Sporofit yang menghasilkan mikrosporofil dengan mikrospongia disebut mikrosporangiat atau strobilus jantan (staminate cones), sedangkan yang menghasilkan megasprofil dengan ovulum (bersama mengasporangia) disebut mengasporangiat atau strobili betina (pistillate cones). Mokrospora dan megaspore bersifat haploid, dan berkembang sebagai sebagai hasil pembel;ahan miosis sel induk spora. Ukuran dan letak strobili pada tanaman bervarasi.
v     PERBANDINGHAN ALAT-ALAT REPRODUKSI PADA ANGIOSPERMAE, GYMNOSPERMAE
pembuahan ganda dalam Angiospermae:
sperma 1 + sel telur —–>zigot —–>biji
sperma 2 + Inti Kandung Lembaga Sekunder —>endosperm—>buah
* perbedaan:
pembuahan tunggal_membentuk biji ( gimnospermae )
pembuahan ganda_membentuk biji dan buah ( angiospermae )


a. Angiospermae
      Pada Angiospermae, waktu tumbuhan berbunga dihasilkan mikrospora dan megaspore. Mikropora berkembang menjadi gametofit jantan yang memancar sebagai serbuk sari, sedangkan maegaspora berkembang menjadi gametofit betina yang merupakan kantung embrio yang tetap berada dalam ovarium, dan merupakan bagian dari bakal biji.
b. Gymnospermae
      Gymnospermae merupakan tumbuhan yang berbiji dimana spermae bakal biji tidak dilindungi oleh dinding ovarium sehingga dikatakan tumbuhan berbiji terbuka. Megaspora tetap erada dalam bakal biji, megasporangium dilindungi oleh beberapa integument, kecuali pada bagian ujung memiliki lubang kecil disebut mikrofil.

RUMPUT GAJAH (ANGIOSPERMAE)
Nama daerah: Elephant grass, napier grass (Inggris), Herbe d’éléphant, fausse canne à sucre (Prancis), Rumput Gajah (Indonesia, Malaysia), Buntot-pusa (Tagalog, Filipina), Handalawi (Bokil), Lagoli (Bagobo), Ya-nepia (Thailand), Co’ duôi voi (Vietnam), pasto elefante (Spanyol).
      Rumput (bahasa Inggris: grass) adalah tumbuhan pendek yang sering ada di halaman, pinggir jalan atau lapangan. Rumput dianggap sebagai gulma pengganggu tanaman bila berada di sekitar tanaman yang sengaja ditanam, tapi merupakan aset utama lapangan sepak bola.
 Jenis rumput yang sering kita jumpai adalah Rumput Gajah, Rumput Jepang.
      Rumput gajah merupakan keluarga rumput rumputan (graminae ) yang telah dikenal manfaatnya sebagai pakan ternak pemamah biak (Ruminansia) yang alamiah di Asia Tenggara. Rumput ini biasanya dipanen dengan cara membabat seluruh pohonnya lalu diberikan langsung (cut and carry) sebagai pakan hijauan untuk kerbau dan sapi, atau dapat juga dijadikan persediaan pakan melalui proses pengawetan pakan hijauan dengan cara silase dan hay. Selain itu rumput gajah juga bisa dimanfaatkan sebagai mulsa tanah yang baik. Di Indonesia sendiri, rumput gajah merupakan tanaman hijauan utama pakan ternak. Penanaman dan introduksi nya dianjurkan oleh banyak pihak
Deskripsi dan Sifat Rumput Gajah
      Nilai pakan rumput gajah dipengaruhi oleh perbandingan (rasio) jumlah daun terhadap batang dan umurnya. Kandungan nitrogen dari hasil panen yang diadakan secara teratur berkisar antara 2-4% Protein Kasar (CP; Crude Protein) selalu diatas 7% untuk varietas Taiwan, semakin tua CP semakin menurun)
      Pada daun muda nilai ketercernaan (TDN) diperkirakan mencapai 70%, tetapi angka ini menurun cukup drastis pada usia tua hingga 55%. Batang-batangnya kurang begitu disukai ternak (karena keras) kecuali yang masih muda dan mengandung cukup banyak air.
      Rumput ini secara umum merupakan tanaman tahunan yang berdiri tegak, berakar dalam, dan tinggi dengan rimpang yang pendek. Tinggi batang dapat mencapai 2-4 meter (bahkan mencapai 6-7 meter), dengan diameter batang dapat mencapai lebih dari 3 cm dan terdiri sampai 20 ruas / buku. Tumbuh berbentuk rumpun dengan lebar rumpun hingga 1 meter. Pelepah daun gundul hingga berbulu pendek; helai daun bergaris dengan dasar yang lebar, ujungnya runcing.
      Rumput gajah merupakan tumbuhan yang memerlukan hari dengan waktu siang yang pendek, dengan fotoperiode kritis antara 13-12 jam. Namun kelangsungan hidup serbuk sari sangat kurang sehingga menjadi penyebab utama dari penentuan biji yang lazimnya buruk. Disamping itu, kecambahnya lemah dan lambat. Oleh karenanya rumput ini secara umum ditanam dan diperbanyak secara vegetatif. Bila ditanam pada kondisi yang baik, bibit vegetatif tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian sampai 2-3 meter dalam waktu 2 bulan.
      Rumput gajah ditanam pada lingkungan hawa panas yang lembab, tetapi tahan terhadap musim panas yang cukup tinggi dan dapat tumbuh dalam keadaan yang tidak seberapa dingin. Rumput ini juga dapat tumbuh dan beradaptasi pada berbagai macam tanah meskipun hasilnya akan berbeda.
Akan tetapi rumput ini tidak tahan hidup di daerah hujan yang terus menerus. Secara alamiah rumput ini dapat dijumpai terutama di sepanjang pinggiran hutan.
      Perkembang biakan vegetatif dilakukan baik dengan cara membagi rumpun akar dan bonggol maupun dengan stek batang (minimal 3 ruas, 2 ruas terbenam di tanah). Hal ini dapat dilakukan dengan tangan atau dengan peralatan seperti yang dilakukan pada penanaman tebu. Jarak antar barisan berkisar antara 50 – 200 cm. di daerah yang lebih kering jaraknya lebih lebar. Jarak dalam barisan bervariasi mulai dari 50 – 100 cm. penanaman yang dicampur dengan tanaman lain semisal ubi kayu dan pisang sering dilakukan di kebun rumah.
      Untuk mendapatkan hasil dan ketahanan tinggi, rumput ini ditanam dengan pengairan yang teratur dan pemupukan yang cukup. Pemupukan yang banyak diterapkan biasanya bila rumput sering dipotong / dipanen.
      Kandungan nutrien setiap ton bahan kering adalah N:10-30 kg; P:2-3 kg; K:30-50 kg; Ca:3-6 kg; Mg dan S:2-3 kg. dengan hasil bahan kering tiap tahun 20-40 ton/Ha, karenanya banyak zat diserap dari tanah. Jika tidak dipupuk hasilnya akan segera menurun drastis dan gulma akan menyerang. Walaupun rumput gajah jarang ditanam dengan polong-polongan (legume), namun tetap dapat dikombinasikan dengan baik.
      Penyakit yang biasa menyerang yaitu kutu Helminthosporium sacchari. Tindakan yang paling baik untuk mencegahnya adalah dengan menggunakan kultivar yang tahan penyakit tersebut. Namun demikian secara umum kami tidak menemukan serangan hama pada rumput gajah yang ditanam. Kebanyakan hanya merupakan serangan belalang dan ulat yang masih bisa di tolerir.
      Rumput gajah dapat dipanen sepanjang tahun. Biasanya rumput ini diberikan dalam bentuk segar, tetapi dapat juga diawetkan sebagai silase.
Hasil bahan kering setiap tahun diharapkan berkisar 2 - 10 ton/hektar untuk tanaman yang tidak dipupuk atau dengan pupuk yang sedikit, tetapi yang menggunakan banyak pupuk N dan P hasilnya berkisar antara 6 - 40 ton/hektar.
      Prospek rumput gajah cukup baik bila dilakukan pemupukan yang baik pula. Dengan memanen pada pertumbuhan yang masih muda atau dengan menggunakan kultivar yang baik akan mencapai nilai pakan yang tinggi. Keuntungan dari jenis ini adalah kemampuannya berproduksi, dapat ditanam dalam jumlah besar atau kecil, dan dapat diusahakan secara mekanis atau juga untuk pertanian/peternakan skala kecil.
Klasifikasi
Kingdom                                         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom                                    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi                                    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                                              : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                                              : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kela                                        : Commelinidae
Ordo                                              : Poales
Famili                                              : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus                                             : Pennisetum
Spesies                                           : Pennisetum purpureum Schumacher   

 PINUS (GYMNOSPERMAE)
Pinus merkusii Jungh.& De Vr
Nama umum Indonesia: Pinus        
Klasifikasi
Kingdom                : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom           : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi           : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                     : Coniferophyta
Kelas                     : Pinopsida
Ordo                     : Pinales
Famili                     : Pinaceae
Genus                    : Pinus
Spesies                  : Pinus merkusii Jungh.& De Vr
Deskripsi
Tumbuhan ini tergolonga famili Pinaceae. Memiliki daun berbentuk jarum, tiap ketiak ada daun, ujung daun tajam. Bijinya terbuka. Pada pangkal daunnya dikelilingi oleh suatu sarum dan sisik yang berupa selaput tipis. Biji pipih berbentuk bulat telur.
Manfaat pohon pinus:
Dari Pohon pinus sebenernya yang di ambil adalah getahnya,dan getah pinus itulah yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di banding bagian pohon lainnya.Pohon Pinus di anggap produktif kalau sudah berumur sekitar 10 sampe 15 tahun namun itu masih belum maksimal tapi sudah bisa di hasilkan getah yang bagus walaupun hasilnya tidak begitu banyak, memperkuat tenaga, menghilangkan keletihan, Merupakan “ kosmetik oral“ alami; Melindungi jantung, mencegah penyakit pembuluh darah jantung; Meningkatkan imunitas tubuh, mencegah berbagai penyakit menular dan tumor; Memperkuat fungsi pencernaan, menambah napsu makan; Memperlambat penuaan; Meningkatkan pertumbuhan anak-anak yang sehat; Timbulnya penyakit saluran pencernaan dan menurunnya fungsi penyerapan pada sistem pencernaan;  Diabetes; Anemia; Alergi; Penyakit liver.

GANGGANG / ALGA
Deskripsi
Alga hijau adalah kelompok alga berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Dalam taksonomi, semula semua alga yang tampak berwarna hijau dimasukkan sebagai salah satu kelas dalam filum/divisio Thallophyta, yaitu Chlorophyceae. Pengelompokan ini sekarang dianggap tidak valid karena ia tidak monofiletik, setelah diketahui bahwa tumbuhan merupakan perkembangan lanjutan dari anggota masa lalunya.
Sebagai konsekuensi, alga hijau sekarang terdiri dari dua filum: Chlorophyta dan Charophyta, yang masing-masing monofiletik.
      Anggota alga hijau ada yang bersel tunggal dan ada pula yang bersel banyak, berwujud berkas, lembaran, atau membentuk koloni. Spesies alga hijau yang bersel tunggal ada yang dapat berpindah tempat, tetapi ada pula yang menetap.
      Sel-sel alga hijau bersifat eukariotik (materi inti dibungkus oleh membran inti). Pigmen klorofil terdapat dalam jumlah terbanyak sehingga alga ini berwarna hijau, pigmen lain yang dimiliki adalah karotena dan xantofil. Komposisi ini juga dimiliki oleh sel-sel tumbuhan modern.
      Klorofil dalam pigmen lain terdapat dalam kloroplas yang bentuknya bermacam-macam antara lain mangkuk, gelang, pita spiral, jala dan bintang. Di dalam kloroplas terdapat butiran padat yang disebut pirenoid yang berfungsi untuk pembentukan tepung.
      Alga hijau merupakan golongan terbesar di antara alga dan kebanyakan hidup di air tawar. Sebagian lagi hidup di darat, di tempat yang lembab, di atas batang pohon, dan di laut.
      Ganggang memiliki pigmen hijau daun yang disebut klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis. Selain itu juga memiliki pigmen – pigmen tambahan lain yang dominan. Ganggang memiliki ukuran yang beraneka ragam ada yang mikroskopis, bersel satu, berbentuk benang atau pita , atau bersel banyak berbentuk lembaran. Dalam perairan ganggang merupakan penyusun vitoplankton yang biasanya melayang – laying didalam air, tetapi juga dapat hidup melekat didasar perairan disebut neustonik.
Ganggang yang bersifat bentik digolongkan lagi menjadi;
a. Epilitik ( hidup diatas batu)
b. Epipalik (melekat pada lumpur atau pasir)
c. Epipitik ( melekat pada tanaman )
d. Epizoik ( melekat pada hewan).
     Berdasarkan habitat yang ditempatinya diperairan , dibedakan atas:
a. Ganggang Subbaerial yaitu ganggang yang hidup didaerah permukaan,
b.Ganggang Intertidal, yaitu ganggan secara periodic muncul kepermukaan karena naik turun air akibat pasang susrut.
c. Ganggang Subritorsal, yaitu ganggang yang berada dibawah permukaan air,
d. Ganggang Edafik, yaitu ganggang yang hidup diddalam tanah pada dasar perairan.
     Jenis – jenis ganggang, misalnya Chlorella sp, bersimbiosis dengan organism lainnya yaitu hidup bersama paramecium, hydra atau molusca; ganggang platimonas sp, hidup bersama cacing pipih convolutta roscofencis.
      Macam bentuk tubuh ganggan yaitu berselsatu atau uniseluler , membentuk koloni berupa filament atau kolini yang tidak membentuk filament.
Sebagian ganggang yang uniseluler dapat bergerak atas kekuatan sendiri (motil), dan yang tidak dapat bergerak sendiri yaitu nonmotil.
      Perbedaan dengan tubuh uniseluler yang mikroskosis, pada ganggang yang membentuk koloni berupa filament berukuran cukup besar, sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang, sel yang terletak paling bawah pada filament membentuk alat khusus untuk menempel pada batu, batang pohon, atau lumpur. Alat tersebut dinamakan pelekat.
Koloni ganggang yang tidak membentuk filamnen umumnya berbentuk pola atau pipih tanpa pelekat. Cara ganggang bereproduksi dengan dua macam, yaitu seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksual terjadi melalui pembelahansel, fragmentasi, dan pembentukan zoozpora, sedangkan reproduksi secara aseksual terjadi melalui isogami dan oogami. Reproduksi akan menghasilkan dua sel anakan yang masing – masing akan menjadi individu baru, terjadi pada ganggang bersel tunggal. Sedangkan ganggang yang membentuk koloni tanpa filament, taupun koloni yang berupa filament, reproduksi melalui fragmentasi. Fragmentasia dalah terpecah – pecahnya koloni menjadi beberapa bagian.
      Berdasarkan dominasi pigmennya, ganggang dapat dibedakan menjadi bebrapa kelompok yaitu ganggang coklat, ganggang merah , ganggang keemasan dan ganggang hijau.
1. Ganggang coklat (paeophiceae)
      Warna ganggang coklat disebabkan oleh pigmen coklat (pikosantin), yang secara dominan menyelubungi warna hijau dari klorofil pada jaringan.ganggang coklat juga mengandung pigmen lainnya seperti klorofil a, klorofil c, violak xantin, b-karioten, diadinoxcatin, dan fukosantin.


a. Ciri – ciri talus
1. Ukuran talus mulai dari mikroskopis sampai dengan maksoskopis, ada yang berbentuk tegak, bercabang, filament tidak bercabang, dan filament dasar.
2. Ganggang ini melalui kloroplas tunggal, ada beberapa yang berbentuk lempengan discoid (cakram) dan ada pula yang seperti benang.
3. Mempunyai pirenoid yang terdapat didalam kloroplas.
4. Bagian dalam dinding selnya tersusun dari lapisan selulosa sedangkan bagian luar tersusun dari gumi. Pada dinding sel dan ruang antar sel terdapat asam alginate atau algin.
5. Merupakan jaringan transportasi air dan zat makanan yang analog dengan jaringan tranzportasi pada tumbuhan darat.
b. Habitat
Ganggang coklat umumnya hidup di air laut, khusunya laut yang agak dingin dan sedang.
c. Cara hidup
Bersifat autotrof fotosintesis, terjadi dihelaian yang mempunyai daum. Gula yang dihasilkan ditransportasikan ketangkai yang menyerupai batang.
d. Peranan ganggang coklat dalam kehidupan
Dimanfaatkan sebagai industry makanan atau farmasi, algin atau asam alginate dari ganggang coklat digunakan dalam pembentukan eskrim, pembentukan pil, salep, pembersih gigi, lotion dank rim, selain itu dapat dimanfaatkan untuk kandungan nitrogen dan kaliumnya cukup tinggi, sedangkan kandungan folfornya rendah.
e. Reproduksi
Terjadi secara aseksual dengan pembentukan zoospore berflagella dan fragmentasi, sedangkan reproduksi seksual terjadi secara ogami dan isogami.
Contoh ganggang coklat;
1. Focus serratus
2. Makro cystis pyrefera
3. Sargassum vulgare
4. Turbinsaris decurr
2. Ganggang merah (Rodophyceae)
      Ganggang merah berwarna merah sampai ungu, tetpai ada juga yang lembayung atau pirang atau kemerah – merahan, chromatofora berbentuk cakram atau lemabaran dan mengandung klorofil a, klorofil b dan karoteboid. Akan tetapi, warna lain tertutup oleh warna merah fikoiretrin sebagai pigmen utama yang mengadakan fluoresensi
a. Ciri talus
1. Bentuknya berupa helaian atau berbentuk seperti pohon.
2. Tidak berflagella.
3. Selnya terdiri dari komponen yang berlapis – lapis.
4. Mempunyai pigmen fotosintetik fikobilin, memiliki pirenoid yang terletak didalam koroplas, pirenoid berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan atau hasil asimilasi.
b. Cara hidup
Ganggang merah umumnya bersifat autotrof, ada juga yang heterotrof, yaitu yang tidak memiliki kromatofora dan biasanya parasit pada ganggang lain.
c. Habitat
Umumnya hidup di laut yang dalam dari pada tempat hidup ganggang coklat. Hidup diperairan tawar.
d. Reproduksi
Bereproduksi secara seksual dengan pembentukan dua ateridium pada ujung – ujung cabang talus. Arteridium menghasilakn gamet jantang yang berupa spermatium dan betinanya karpogamium terdapat pada ujung cabang lainnya.
Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan tetraspora kemudian menjadi gametania jantan dan gametania betina, akan membentuk satu karkospofrafit. Karkosporafit akan menghasil tentranspora.
Contoh anggota ganggang merah antara lain: porallina, parmalia, bateracospermum moniniformi, gelidium, gracilaria,eucheuma, dan skinaia furkellata.


e. Peran ganggang merah pada kehidupan.
Manfaatnya antara lain sebagai bahan makanan dan kosmetik.misalnya eucheuma spinosum, selain itu juga dipakai untuk mengeraskan atau memadatkan media pertumbuhan bakteri.
3. Ganggang keemasan (Chrysophayceae)
      Kelompok ini paling beragam dalam komposisi pigmennya, dinding selnya, dan tipe flagella selnya. Dan mengandung klorofil a , klorofil c, karoten dan xactofil.
a. Ciri talus
1. Bentuk dapat berupa batang, telapak tangan , dan bentuk – bentuk campuran.
2. Pada ganggang keemasan yang bersel satu ada yang memiliki dua flagella jheterodinamik yaitu sebagai berikut,
a) Satu flagella memiliki tonjolan seperti rambut yang disebut mastigonema, flagella seperti ini disebut pleuronematik.
b) Satu flagella lagi tidak mempunyai tonjolan seperti rambut disebut akronematik, mengarah ke posterior.
3. Pada kloroplas pada ganggang jenis tertentu ditemukan pirenoid yang merupakan tempat persediaan makanan.
b. Habitat
Habitatnya di air tawar atau air laut, tempat – tempat yang basah, dan merupakan anggota [enyusun plankton.
c. Cara hidup
Ganggang keemasan hidup secara fotoautotrof, artinya dapat mensintesis makanan sendiri dengan memiliki klorofil untuk berfotosintesis.
d. Reproduksi
Reproduksi aseksual dengan membentuk auksospora dan pembelahan diri, sedangkan reproduksi seksual dengan oogami.



e. Peranan ganggang keemasan dalam kehidupan
Berguna sebagai bahan penggosok, bahan pembuat isolasi, penyekat dinamit, membuat saringan, bahan alat penyadap suara, bahan pembuat cat, pernis, dan piringan hitam.
4. Ganggang hijau (chlorophyceae)
a. Ciri talus
1. Ada yang bersatu dan bersel banyak (koloni )
2. Bentuk tubuh ada yang bulat, filament, lembaran, dan ada yang menyerupai tumbuahn tinggi, misalnya bryopsis,
3. Kloroplasnya beraneka bentuk dan ukurannya, ada yang seperti mangkok, seperti busa, seperti jala, dan seperti bintang,
4. Pada pirenoid yang terdapat pada kloroplas gangganh hiaju motil dan pada sel reproduktif yang bergerak terdapat stigma (bintik mata merah).
5. Pada sel yang dapat bergerak terdepat vakuola kontraktil didalam sitoplasmanya, vakuola ini berfungsi sebagai alat osmoregulasi.
6. Inti ganggang ini memiliki membrane, sehingga bentuknya tetap, disebut eukarion.
7. Pada ganggang hijau yang bergerak terdapat dua flagella yang sama panjang, macamnya adalah stikonematik, pantonematik, dan pantokronematik.
b. Habitat
Habitat ganggang ini diair tawar, air laut, tanah – tanah yang basah , ada pula yang hidup di tempat – tempat kering.



c. Cara hidup
Ganggang hiaju hidup secara autotrof. Namun ada pula yang bersimbiosis dengan organism lain, mislanya dengan jamur membentuk lumut kerak.
d. Reproduksi
Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospore, yaitu spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat. Reproduksi aseksualnya berlangsung secara konjugasi.Hasil konjugasi berupa suatu zigospora , zigospora tidak mempunyai alat gerak.
Contoh bebrapa jenis alga hijau, antara lain : spirogyra.volvox, chalamidomonas, vulva dan stigeoslonium.
Beberapa genus dari alga hijau mempunyai alat gerak berupa flagel dan bintik mata (stigma)
Klasifikasi
Kingdom                  : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
                       : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
                       : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas
                : Alismatidae
Ordo
                       : Hydrocharitales
Famili
                       : Hydrocharitaceae
Genus
                      : Hydrilla
Spesies
                    : Hydrilla verticillata (L. f.) Royle

BRYOPHYTA ( LUMUT )
      Deskripsi
      Tumbuhan lumut yang tumbuh di lantai hutan hujan membantu menahan erosi, mengurangi bahaya banjir, dan mampu menyerap air pada musim kemarau. Lumut merupakan tumbuhan darat sejati, walaupun masih menyukai tempat yang lembab dan basah. Lumut yang hidup di air jarang kita jumpai, kecuali lumut gambut (sphagnum sp.).
      Pada lumut, akar yang sebenarnya tidak ada, tumbuhan ini melekata dengan perantaraan Rhizoid (akar semu), olehkarena itu tumbuhan lumut merupakan bentuk peralihan antara tumbuhan ber-Talus (Talofita) dengan tumbuhan ber-Kormus (Kormofita). Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof. Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifil. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifil maka hutan demikian disebut hutan lumut. Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem).
      Tumbuhan ini sudah menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini juga belum memiliki pembuluh sejati. Alih-alih akar, organ penyerap haranya adalah rizoid (harafiah: "serupa akar"). Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis. Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor, yang tumbuh di suatu tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan lumut berukuran kecil tetapi membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang luas. Jaringan tumbuhan yang mati menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang lainnya.
      Dalam bahasa sehari-hari, istilah "lumut" dapat merujuk pada beberapa divisio. Klasifikasi lama pun menggabungkan pula lumut hati dan lumut tanduk ke dalam Bryophyta, sehingga di dalam Bryophyta terangkum lumut tanduk, lumut hati, dan lumut sejati (Musci). Namun, perkembangan dalam taksonomi tumbuhan menunjukkan bahwa penggabungan ini parafiletik, sehingga diputuskan untuk memisahkan lumut hati dan lumut tanduk ke luar dari Bryophyta. Di dunia terdapat sekitar 4.000 spesies tumbuhan lumut (termasuk lumut hati), 3.000 di antaranya tumbuh di Indonesia[1]. Kebun Raya Cibodas di Jawa Barat memiliki "taman lumut" yang mengoleksi berbagai tumbuhan lumut dan lumut hati dari berbagai wilayah di Indonesia dan dunia.
      Tumbuhan lumut mengalami pergiliran keturunan dalam daur hidupnya. Apa yang dikenal orang sebagai tumbuhan lumut merupakan tahap gametofit (tumbuhan penghasil gamet) yang haploid (x = n). Dengan demikian, terdapat tumbuhan lumut jantan dan betina karena satu tumbuhan tidak dapat menghasilkan dua sel kelamin sekaligus.
      Sel-sel kelamin jantan (sel sperma) dihasilkan dari anteridium dan sel-sel kelamin betina (sel telur atau ovum) terletak di dalam arkegonium. Kedua organ penghasil sel kelamin ini terletak di bagian puncak dari tumbuhan. Anteridium yang masak akan melepas sel-sel sperma. Sel-sel sperma berenang (pembuahan terjadi apabila kondisi lingkungan basah) menuju arkegonium untuk membuahi ovum.
      Ovum yang terbuahi akan tumbuh menjadi sporofit yang tidak mandiri karena hidupnya disokong oleh gametofit. Sporofit ini diploid (x = 2n) dan berusia pendek (3-6 bulan untuk mencapai tahap kemasakan). Sporofit akan membentuk kapsula yang disebut sporogonium pada bagian ujung. Sporogonium berisi spora haploid yang dibentuk melalui meiosis. Sporogonium masak akan melepaskan spora. Spora tumbuh menjadi suatu berkas-berkas yang disebut protonema. Berkas-berkas ini tumbuh meluas dan pada tahap tertentu akan menumbuhkan gametofit baru.
Peran tumbuhan lumut dalam ekosistem
      Tumbuhan lumut memiliki peran dalam ekosistem sebagai penyedia oksigen, penyimpan air (karena sifat selnya yang menyerupai spons), dan sebagai penyerap polutan.
      Tumbuhan ini juga dikenal sebagai tumbuhan perintis, mampu hidup di lingkungan yang kurang disukai tumbuhan pada umumnya.
Manfaat tumbuhan lumut
      Beberapa tumbuhan lumut dimanfaatkan sebagai ornamen tata ruang. Beberapa spesies Sphagnum dapat digunakan sebagai obat kulit dan mata.
Klasifikasi
Kingdom   : Plantae (Tumbuhan)
Divisi
                     : Marchantiophyta
Kelas
                    : Marchantiopsida
Ordo
                     : Marchantiales
Famili
                    : Marchantiaceae
Genus
                    : Marchantia
Spesies
                  : Marchantia polymorpha

PTERIDOPHYTA ( PAKU )
Deskripsi
      Tumbuhan paku (atau paku-pakuan, Pteridophyta atau Filicophyta), adalah satu divisio tumbuhan yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksinya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini masih menggunakan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi.
      Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 di antaranya tumbuh di Indonesia), sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembab. Tumbuhan ini cenderung tidak tahan dengan kondisi air yang terbatas, mungkin mengikuti perilaku moyangnya di zaman Karbon, yang juga dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku karena merajai hutan-hutan di bumi. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini yang memfosil sekarang ditambang orang sebagai batu bara.
Paku laut. Tumbuhan paku adaptif untuk tempat-tempat marginal.
      Secara tradisional, Pteridophyta mencakup semua kormofita berspora, kecuali lumut hati, lumut tanduk, dan tumbuhan lumut. Selain paku sejati (kelas Filicinae), termasuk di dalamnya paku ekor kuda (Equisetinae), rane dan paku kawat (Lycopodiinae), Psilotum (Psilotinae), serta Isoetes (Isoetinae). Sampai sekarang pun ilmu yang mempelajari kelompok-kelompok ini disebut pteridologi dan ahlinya disebut pteridolog.
      Smith et al. (2006) mengajukan revisi yang cukup kuat berdasarkan data morfologi dan molekular.
Berdasarkan klasifikasi terbaru ini, Lycophyta (rane, paku kawat, dan Isoetes) merupakan tumbuhan berpembuluh yang pertama kali terpisah dari yang lain, sedangkan paku-pakuan serta tumbuhan berbiji berada pada kelompok lain.Selanjutnya terlihat bahwa semua kormofita berspora yang tersisa tergabung dalam satu kelompok besar, yang layak dikatakan sebagai anggota divisio tumbuhan paku (Pteridophyta). Dari hasil revisi ini juga terlihat bahwa sejumlah paku-pakuan yang dulu dianggap sebagai paku primitif (seperti Psilotum) ternyata lebih dekat berkerabat dengan paku tunjuk langit (Helminthostachys), sementara paku ekor kuda (Equisetum') sama dekatnya dengan paku sejati terhadap Marattia.
Morfologi
      Bentuk tumbuhan paku bermacam-macam, ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, hidrofit, tetapi biasanya berupa terna dengan rizoma yang menjalar di tanah atau humus dan ental (bahasa Inggris frond) yang menyangga daun dengan ukuran yang bervariasi (sampai 6 m). Ental yang masih muda selalu menggulung (seperti gagang biola) dan menjadi satu ciri khas tumbuhan paku. Daun pakis hampir selalu daun majemuk. Sering dijumpai tumbuhan paku mendominasi vegetasi suatu tempat sehingga membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain.
Daur hidup (metagenesis)
Protalium (panah merah) dengan tumbuhan paku muda
      Daur hidup tumbuhan paku mengenal pergiliran keturunan, yang terdiri dari dua fase utama: gametofit dan sporofit. Tumbuhan paku yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora. Bentuk generasi fase gametofit dinamakan protalus (prothallus) atau protalium (prothallium), yang berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki rizoid sebagai penggantinya), tidak berbatang, tidak berdaun. Prothallium tumbuh dari spora yang jatuh di tempat yang lembab.Dari prothallium berkembang anteridium (antheridium, organ penghasil spermatozoid atau sel kelamin jantan) dan arkegonium (archegonium, organ penghasil ovum atau sel telur). Pembuahan mutlak memerlukan bantuan air sebagai media spermatozoid berpindah menuju archegonium. Ovum yang terbuahi berkembang menjadi zigot, yang pada gilirannya tumbuh menjadi tumbuhan paku baru.
      Tumbuhan berbiji (Spermatophyta) juga memiliki daur seperti ini tetapi telah berevolusi lebih jauh sehingga tahap gametofit tidak mandiri. Spora yang dihasilkan langsung tumbuh menjadi benang sari atau kantung embrio.

Klasifikasi
 Kingdom               : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom          : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi                     : Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas                    : Pteridopsida
Sub Kelas             : Polypoditae
Ordo                     : Polypodiales
Famili                    : Polypodiaceae
Genus                    : Drymoglossum
Spesies                  : Drymoglossum piloselloides (L.) Presl.

BABANDOTAN
Deskripsi
Tumbuhan ini tergolong famili Asteraceae / compositae dengan spesies Ageratum conyzoides L. Merupakan tumbuhan dikotil. Memiliki daun berwarna hijau , daun bawah berhadapan dan bertangkai pendek helaian daun bulat telur. Akarnya tunggang. Bunga memiliki dasar bunga bersama tanpa sisik ,bunga sama panjang dengan pembelut.
Di Bogor, babadotan dikenal luas sebagai obat luka. Menurut Heyne , daun tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk dioleskan ke badan untuk obat demam; ekstraknya dapat diminum.
Meski demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun. Di Barat, bandotan juga dimanfaatkan sebagai insektisida dan nematisida. Sementara, penelitian lain menemukan bahwa bandotan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan menumbuhkan tumor. Tumbuhan ini mengandung alkaloid pirolizidina.
Klasifikasi
Kingdom    : Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi           : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi         : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas         : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas  : Asteridae
Ordo         : Asterales
Famili         : Asteraceae
Genus        : Ageratum
Spesies      : Ageratum conyzoides L.



















DAFTAR PUSTAKA

·        Duke. J.1983. Handbook of Energy Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
·        Hidayat, Estiti,B. 1995. Anatomi  Tumbuhan Berbiji. ITP: Bandung.
·        Steens, C. 1981. Flora. PT. Prodnya Paramita. Jakarta Pusat
·        Tjitrosoepomo, Gembong. 1979. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
·        Tjitrosoepomo, Gembong.1988. Taksonomi Tumbuhan ( Spermatophyta ). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
·        Smith AR, Pryer KM, Schuettpelz E, Korall P, Schneider H, Wolf PG . 2006. A classification for extant ferns. Taxon 55:705-731.
·         PROSEA. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara buku 4. PT. Balai Pustaka: Prosea Indonesia